
Alun-alun Desa Garawangi menjadi ruang koordinasi berbagai unsur dalam menghadapi potensi bencana kebakaran pada Jumat (4/9/2026). Mulai pukul 15.00 WIB, peserta mengikuti Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Kebakaran Masyarakat Peduli Api Tingkat Kecamatan Garawangi Tahun 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan unsur tingkat kecamatan, pemerintahan desa, kepolisian, serta perwakilan masyarakat dalam satu lokasi.
Kapolsek Garawangi Iptu Endar Kuswanadi, S.E. menjadi salah satu pihak yang tercatat hadir dalam apel tersebut. Kasi Trantib Kecamatan Garawangi Heryanto, S.E., para Kasi dan Kasubag Kecamatan Garawangi, serta Kasi Pemerintahan Desa se-Kecamatan Garawangi juga menjadi bagian dari kegiatan. Dari unsur masyarakat, hadir perwakilan Masyarakat Peduli Api yang berasal dari desa-desa di Kecamatan Garawangi.
Pertemuan di satu lokasi memungkinkan perhatian terhadap kesiapsiagaan disampaikan kepada unsur yang memiliki wilayah tanggung jawab berbeda. Peserta diminta meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan di wilayah binaan masing-masing, sehingga setiap wilayah tetap mendapat perhatian berdasarkan kondisi setempat. Kepekaan terhadap tanda awal kebakaran pun menjadi salah satu hal yang harus terus dijaga.
Foto kegiatan memperlihatkan sebuah formasi peserta di area terbuka dengan seorang personel berada di bagian depan. Beberapa peserta terlihat memakai seragam yang berbeda, sedangkan lainnya mengenakan pakaian nonseragam sesuai latar unsur yang hadir. Gambaran tersebut memperkuat kesan bahwa kegiatan merupakan pertemuan lintas sektor dan bukan apel yang hanya diikuti satu kelompok tertentu.
Arahan yang diberikan selanjutnya bergerak pada hubungan informasi. Ketika sebuah tanda awal bencana diketahui, informasi perlu diberikan dengan cepat sehingga potensi dampak dapat diminimalkan. Laporan tentang kerawanan juga harus dilakukan secara cepat, tepat, dan berjenjang agar koordinasi antarunsur mempunyai mekanisme yang jelas.
Komunikasi tidak hanya menghubungkan peserta yang hadir di alun-alun. Pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, relawan, serta masyarakat setempat turut disebut sebagai bagian dari jaringan komunikasi yang harus dijaga secara intensif. Setelah apel selesai, hubungan antarpihak tersebut tetap menjadi bagian dari kesiapsiagaan di wilayah masing-masing.
Peralatan dan sumber air juga masuk dalam arahan, sehingga kesiapan tidak hanya berada pada orang dan informasi. Alkon atau mesin penyedot air, APAR, serta alat tradisional lainnya perlu disiapkan dan disiagakan. Kantong-kantong air yang dapat digunakan ketika kebakaran terjadi juga harus dipetakan agar sumber air diketahui sebelum diperlukan.
Salah satu bagian yang membawa kesiapsiagaan ke tingkat perilaku adalah imbauan kepada warga mengenai pembakaran. Masyarakat diingatkan agar tidak membakar lahan maupun hutan secara sembarangan. Pencegahan tersebut menjadi lapisan awal yang melengkapi kesiapan penanggulangan apabila kebakaran tetap terjadi.
Kegiatan akhirnya berlangsung sampai selesai dengan situasi tertib, aman, dan kondusif. Apel di alun-alun Desa Garawangi menjadi sarana menyamakan perhatian terhadap pemantauan, informasi, koordinasi, peralatan, sumber air, dan pencegahan. Dengan bertemunya berbagai unsur pada sore tersebut, kesiapsiagaan tingkat Kecamatan Garawangi dibangun melalui pemahaman yang tidak hanya terpusat pada satu instansi.










